25/09/2013

PEREMPUAN YANG CUMA SATU PERSINGGAHAN

pertama kali aku ingat
kau perempuan yang keseorangan
sedang ingin mencambahkan kebahagiaan
di pinggir tasik jernih penuh silam
sambil matamu penuh dengan tetesan 

dan ketika itu aku mampir
sedang dalam satu tujuan

bagai disihirkan aku
terjelopok di dakapmu
hanya kerna senyum mulus
penuh rasa kasihan
penuh rasa kesunyian

kita berpimpinan tangan
meniti sisa sisa kesialan
yang pernah kau rasai
kau kongsi, kau beri
buat aku, ubati

dan ketika itu aku
masih sedang dalam satu tujuan

tatkala genggam masih belum mahu dileraikan
kau tersentak dengan pandangan lahirmu
pada reflek air tasik jernih itu
yang ada cuma kau, tanpa aku di sisi

sedarlah
aku, cuma terwujud dari empati
yang sempat kau imbaskan dari masa lalumu
aku, secara realis sudah lama berlalu dari situ,

maaf jutaan maaf, 
aku lelaki yang penuh bersimpati
tapi tujuanku bukan kamu. . .

13/09/2013

RIVAL

Seorang lelaki, daya, serta asa
Sedang bergelanggang
Di atas batuan simetri yang tak putus putus menggarit langit
Lalu mengintip si malaikat di celahan robeknya.
Membawa kalung, sedia menyarung

Sehingga antara satunya
Tetap berapungan

Maka yang lainnya
Harus rela didakap graviti

07/09/2013

BINTANG PALING MALAP

Bintang terpaling malap
Tika cahayamu tak memantul di biru laut
Tika si nakhoda membangsatkanmu 
Gara gara haluannya terpesong berpandukanmu
Tika itu aku, sedang menatapmu
Sayang untuk berkelip mata berkaca
Bimbang malap mu tidak ku lihat lagi
Kemudian aku sahut
Andai engkau terpaling malap
Berarti engkau sedang bersedih
Atau engkau sudah tak tergapaikan langit
Sepi. 

Bintang terpaling malap

Masih ada aku menatapmu
Mata berkaca ini takkan ku kelip
Takut
Biar terhanyut di gelanggang sepi
Biar terjerumus mendongak langit

Bintang terpaling malap

Tak seorang pun mampu menggapai mu
Itu harga yang bakal bisa
Buat engkau bersinar lagi.